Sabtu, 27 Februari 2016

cerpen



Sempurna Lebih Berwarna
(Etie Rahayu Ningsih-X MIA 3)

          Sebuah perjalanan hidup seorang gadis kecil berparas cantik. Gadis itu bernama Gina. Gina adalah murid salah satu SMP di Kota Magelang. Gina memiliki wajah yang cantik dan juga manis. Rambut panjang dan poni membuatnya terlihat lebih feminin. Rambut panjangnya selalu ia kuncir tinggi. Kacamata juga tak pernah enggan menemani Gina pergi kemanapun. Hal itu membuat Gina terlihat sangat cantik apalagi dengan tahi lalat yang ada di dagunya. Meskipun Gina telah duduk di bangku kelas VIII SMP, dia berbeda dengan remaja seumurannya. Jika teman-temannya pergi untuk main ataupun jalan-jalan Gina hanya duduk di rumah bersama ibunya.
"Nak, inikan hari Minggu, kamu nggak mau pergi jalan-jalan kemana gitu?" tanya ibu Gina hingga membuyarkan lamunan Gina.
"Nggak Bu, Gina di rumah aja nemenin ibu. Gina juga males mau pergi-pergi."
          Tak lain dengan di sekolah. Jika waktu istirahat para penghuni kelasnya menghabiskannya dengan bercanda dan ngobrol, Gina hanya duduk terdiam dan terpaku pada buku-buku yang ada di depan matanya.
"Kamu lagi ngapain Gin?" tanya Titi yang datang menghampirinya.
"Nggak, ini cuma baca-baca buku." Jawab Gina tanpa menatap Titi sedikitpun.
"Oh, gitu ya." timpal Titi dengan kesal.
Karena tanggapan Gina yang kurang menyenangkan Titi pun meninggalkan Gina. Titi meninggalkan Gina dengan wajah sedikit ditekuk. Tak menghiraukan apa yang terjadi Gina terus melanjutkan belajarnya. Waktu telah berlalu. Mata Gina masih terpaku pada buku-buku di depannya. Hal itu membuat Gina tidak memiliki banyak teman. Bahkan teman-teman sekelasnya pun enggan untuk mendekati Gina. Gina adalah seorang gadis yang pemalu, sulit untuk dekat dengan orang baru di hidupnya, dan Gina suka untuk menyendiri.
          Istirahat telah selesai. Saat ini telah masuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kali ini materi yang dipelajari adalah membuat cerpen. Setiap siswa diberi tugas untuk membuat sebuah cerpen dengan tema "aku dan kehidupanku". Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk membuat cerpen, akhirnya tugas tersebut dibuat PR. Tugas tersebut harus dikumpulkan satu minggu dari hari itu.
***
          Waktu demi waktu terus berlalu hari demi hari telah berganti. Kebiasaan Gina masih tetap sama. Menyendiri dan terus menyendiri. Belajar dan terus belajar. Gina tak ingin mengecewakan ibunya. Ia ingin melihat ibunya bahagia. Gina ingin menunjukkan kepada ibunya kalau dia adalah anak yang pandai, anak yang berprestasi, dan menjadi kebanggan ibunya. Ibunya yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ibunya yang selalu menjaganya sejak kepergian ayahnya beberapa tahun lalu. Ibunya yang selalu berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakannya. Apapun Ibu Gina lakukan untuknya, termasuk menjadi buruh di sebuah pabrik dengan upah yang sangat minim. Meski begitu, Gina bersyukur ia dapat bersekolah hingga saat ini dengan beasiswa yang didapatkannya.
          Di rumah, Gina hanya tinggal berdua dengan ibunya. Dalam keadaan seperti itu Gina tak pernah merasa sepi. Bagi Gina ibunya adalah segalanya. Separuh dari hidup Gina ada pada diri ibunya. Apapun keadaan ibunya. Gina dan ibunya hidup di kondisi yang sulit, mereka selalu bertahan dan berjuang untuk mempertahankan hidup. Mereka yakin bahwa ada kalanya posisi manusia berada di titik terendah yang membuat mereka berpikir hidup tak lagi berharga. Akan tetapi, akan tiba masa di mana seseorang berada di titik puncak dan mereka bisa menikmati titik tersebut karena teringat begitu susahnya usaha untuk menggapai puncak itu. Dari keadaan keluarganya tersebut Gina belajar akan arti hidup dan perjuangan. Gina pun menjadi seorang yang berani, kuat, dan tangguh.
          Meskipun Gina seorang gadis yang berani, kuat, dan tangguh tetapi Gina susah bergaul dan sukar untuk akrab dengan orang baru di hidupnya. Itulah hal yang menyebabkan Gina tidak memiliki sahabat bahkan seorang teman pun.Hari demi hari Gina lalui. Waktu demi waktu berlalu begitu berat tanpa seorang teman pun. Gina merasa hidupnya kurang sempurna.
Toktoktok....
Suara ketukan itu lagi-lagi membuyarkan lamunan Gina.
"Kamu sedang apa, Nak?"
"Eh, oh Ibu. Ng... ng... nggak Bu." jawab Gina yang terkaget dan mencoba menutupi sesuatu.
"Baiklah, makan dulu yuk, Nak. Ibu sudah siapkan makan siang kesukaanmu."
Gina pun bergegas dari tempat tidurnya menuju ruang makan. Di atas meja makan telah tersaji sepiring kacang panjang tumis dan sebakul nasi. Tak ketinggalan menu favorit Gina, tempe goreng yang hanya dibumbui dengan garam dan bawang putih. Sebuah menu yang sangat sederhana. Di balik kesederhanaan menu tersebut terdapat rasa cinta, kasih sayang, dan juga perjuangan untuk mendapatkannya. Disaat seperti inilah Gina merasakan begitu berharganya seorang ibu dan sebuah kebersamaan.
"Makasih ya Bu, Ibu udah masakin semua ini buat aku. Aku sayang sama Ibu." ucap Gina dengan penuh kelembutan sembari memeluk ibunya.
"Iya nak, Ibu juga sayang sama kamu. Jadi anak yang sabar dan kuat ya. Bukan hanya itu, kamu harus peduli dengan sesama, mengasihi sesama, dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Satu lagi Nak, jangan lupa salat. Berdoalah kepada Allah yang telah memberikan semua ini. Dia memberikan apa yang terbaik. Jangan pernah sesali apa yang telah ada. Jalani sepenuh hati meskipun tak sesuai dengan apa yang kau inginkan, Nak. Ingat! Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah dari apa yang kita inginkan."
Pelukan Gina semakin erat. Tanpa sadar air mata telah mengalir dari keduanya.
"Iya, Bu. Gina akan selalu mensyukuri apa yang telah Allah berikan pada Gina."
"Ya udah-udah makan aja yuk, nanti keburu dingin."
"Ayo Bu, aku juga udah laper. Hehehe."
          Mereka pun makan seadanya. Setelah makan Gina kembali lagi ke kamarnya. Gina mulai mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Dia mulai menulis kisah hidupnya. Kisah yang penuh warna. Warna kelabu menjadi dominannya. Kata demi kata mulai Gina susun. Paragraf demi paragraf mulai ia rangkai. Hingga pada akhirnya selesai sudah cerpen yang dibuatnya. Karena Gina sudah letih dengan kegiatan seharian ini, Gina terlelap dengan pulasnya.
***
          Bulan demi bulan telah berganti. Tugasnya pun telah ia kumpulkan sebelum batas waktu. Seperti biasa, Gina mulai hari-hari yang berganti dengan perasaan yang monoton. Gina masih tetap tak memiliki teman.
***
          Malam ini adalah malam kelabu. Tanpa bintang dan juga sang raja malam. Sama seperti perasaan Gina. Gina hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Dia ingat akan perkataan ibunya. Kita harus menjalin hubungan baik dengan orang lain. Sekalipun dia orang yang pintar, berani, kuat, dan tangguh. Gina terus merenung dan merenung. Dia mengingat apa yang telah menjadi kebiasaannya selama ini.
"Apa yang selama ini aku lakukan? Ya, aku emang pinter, aku emang kuat, aku pembereni, aku tangguh. Tapi apa gunanya semua itu? Aku nggak punya teman. Seorang pun aku tak punya. Aku harus berubah. Aku harus bisa jadi apa yang ibu bilang. Ibu bener, menjalin hubungan baik dengan orang lain memang perlu. Apalagi aku nggak bisa ngelakuin semua sendiri. Aku butuh orang lain. Bukan cuma ibu, sahabat pun aku perlu. Aku harus berubah! Ya, mulai besok aku akan berubah. Aku akan mencoba jadi gadis yang supel. Mudah bergaul dengan orang lain. Harus! Aku akan berusaha. Aku pasti bisa."
          Gina terus berbicara pada dirinya sendiri. Tanpa terasa jam di tembok kamarnya telah menunjukkan waktu pukul 12.00 malam. Gina mencoba memejamkan matanya. Tak bisa. Gina tak bisa. Tak seperti malam-malam sebelumnya. Dia tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Ia terus terbayang-bayang apa yang telah terucap. Gina mulai ragu apakah teman-temannya mau menerimanya. Belum sempat terlelap Ibu Gina mengetuk pintu.
"Nak, ayo bangun. Udah jam lima nih, nanti kamu telat."
"Iya, Bu. Gina udah bangun kok."
          Gina yang semalaman belum tidur, kaget mendengar suara ibunya dan mengetahui bahwa hari telah berganti. Gina bergegas untuk bangun. Gina tak sabar untuk sampai di sekolah pagi ini.
***
          Seperti biasa, suasana kelas di pagi hari masih sepi dan Gina adalah orang pertama yang masuk ke kelas tersebut. Satu demi satu siswa yang sekelas dengan Gina datang. Orang yang Gina tunggu-tunggu akhirnya datang.
"Ti, aku mau minta maaf sama kamu. Aku sering nyuekin kamu. Padahal kamu udah berusaha untuk deket sama aku. Kamu mau jadi sahabat aku? Bukan cuma sahabat, aku mau kamu jadi sahabat terbaikku."
"Ka...kamu kenapa Gin? Kenapa kamu tiba-tiba kaya gitu ke aku? Kamu nggak kenapa-kenapa kan?"
Karena tak biasanya Gina seperti itu, Titi kaget mendengar ucapan Gina. Titi takut ada sesuatu yang terjadi dengan Gina.
"Aku nggak apa-apa kok. Aku sadar selama ini aku salah. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku mengabaikan orang-orang yang mencoba dekat denganku."
"Gina...."
"Iya Ti,  aku mau kamu jadi sahabatku."
"Pasti Gina, pasti. Aku udah maafin kamu dari dulu. Jauh sebelum kamu minta maaf sama aku. Dari dulu aku berharap banget kamu jadi sahabat terdekatku. Dan sekarang harapanku terwujud. Aku seneng banget Gin..."
"Makasih Ti, aku beruntung banget ada kamu yang mau jadi temen aku. Kamu yang dari dulu peduli sama aku."
          Gina memeluk Titi erat-erat. Tak terasa air mata haru menetes pipi mereka. Siswa lain yang ada di kelas juga memandang keduanya penuh haru. Tak ketinggalan Gina juga minta maaf dengan teman sekelasnya yang lain dan meminta mereka menjadi temannya. Hal yang tak terduga muncul. Siswa sekelas Gina justru yang minta maaf kepada Gina. Mereka mengaku mereka yang tak pernah memperhatikan Gina.
***
          Setibanya di rumah Gina langsung menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibu Gina tersenyum mendengar cerita Gina.
"Nak, apa yang ibu bilang benar kan? Sekarang kamu harus menjaga hubungan kamu dengan sahabat-sahabatmu. Jangan pernah kamu menyakiti mereka. Jangan pernah kamu mengecewakan mereka. Sama seperti apa yang kamu lakukan ke ibu. Kamu selalu menjaga hati ibu. Membuat ibu bahagia, membuat ibu bangga."
"Iya, Bu. Gina janji akan selalu ingat apa ibu bilang."
          Hidup Gina kini lebih sempurna. Hari-hari yang datang Gina lalui dengan warna baru. Hari penuh tawa dan hari-hari yang membuat Gina lebih bahagia.
***

1 komentar:

  1. OK, dengan beberapa kekurangan dalam penulisan, misalnya pada penulisan dialog, cerpen ini menarik, terasa orisinal. Sayang Anda terlalu memberi tahu pembaca tentang si tokoh. Akan lebih baik, biarkan pembaca menafsirkan senidiri tentang tokoh. Contohnya, Gina adalah bla bla, dia berbeda dengan ...

    BalasHapus