Sempurna
Lebih Berwarna
(Etie
Rahayu Ningsih-X MIA 3)
Sebuah
perjalanan hidup seorang gadis kecil berparas cantik. Gadis itu bernama Gina. Gina
adalah murid salah satu SMP di Kota Magelang. Gina memiliki wajah yang cantik
dan juga manis. Rambut panjang dan poni membuatnya terlihat lebih feminin.
Rambut panjangnya selalu ia kuncir tinggi. Kacamata juga tak pernah enggan
menemani Gina pergi kemanapun. Hal itu membuat Gina terlihat sangat cantik
apalagi dengan tahi lalat yang ada di dagunya. Meskipun Gina telah duduk di
bangku kelas VIII SMP, dia berbeda dengan remaja seumurannya. Jika
teman-temannya pergi untuk main ataupun jalan-jalan Gina hanya duduk di rumah
bersama ibunya.
"Nak, inikan hari Minggu, kamu nggak mau pergi
jalan-jalan kemana gitu?" tanya ibu Gina hingga membuyarkan lamunan Gina.
"Nggak Bu, Gina di rumah aja nemenin ibu. Gina
juga males mau pergi-pergi."
Tak
lain dengan di sekolah. Jika waktu istirahat para penghuni kelasnya
menghabiskannya dengan bercanda dan ngobrol, Gina hanya duduk terdiam dan
terpaku pada buku-buku yang ada di depan matanya.
"Kamu lagi ngapain Gin?" tanya Titi yang
datang menghampirinya.
"Nggak, ini cuma baca-baca buku." Jawab
Gina tanpa menatap Titi sedikitpun.
"Oh, gitu ya." timpal Titi dengan kesal.
Karena tanggapan Gina yang kurang menyenangkan Titi
pun meninggalkan Gina. Titi meninggalkan Gina dengan wajah sedikit ditekuk. Tak
menghiraukan apa yang terjadi Gina terus melanjutkan belajarnya. Waktu telah
berlalu. Mata Gina masih terpaku pada buku-buku di depannya. Hal itu membuat
Gina tidak memiliki banyak teman. Bahkan teman-teman sekelasnya pun enggan
untuk mendekati Gina. Gina adalah seorang gadis yang pemalu, sulit untuk dekat
dengan orang baru di hidupnya, dan Gina suka untuk menyendiri.
Istirahat
telah selesai. Saat ini telah masuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kali ini
materi yang dipelajari adalah membuat cerpen. Setiap siswa diberi tugas untuk
membuat sebuah cerpen dengan tema "aku dan kehidupanku". Karena waktu
yang tidak memungkinkan untuk membuat cerpen, akhirnya tugas tersebut dibuat
PR. Tugas tersebut harus dikumpulkan satu minggu dari hari itu.
***
Waktu
demi waktu terus berlalu hari demi hari telah berganti. Kebiasaan Gina masih
tetap sama. Menyendiri dan terus menyendiri. Belajar dan terus belajar. Gina
tak ingin mengecewakan ibunya. Ia ingin melihat ibunya bahagia. Gina ingin
menunjukkan kepada ibunya kalau dia adalah anak yang pandai, anak yang
berprestasi, dan menjadi kebanggan ibunya. Ibunya yang telah membesarkannya dengan
penuh kasih sayang. Ibunya yang selalu menjaganya sejak kepergian ayahnya
beberapa tahun lalu. Ibunya yang selalu berusaha sebisa mungkin untuk
membahagiakannya. Apapun Ibu Gina lakukan untuknya, termasuk menjadi buruh di
sebuah pabrik dengan upah yang sangat minim. Meski begitu, Gina bersyukur ia
dapat bersekolah hingga saat ini dengan beasiswa yang didapatkannya.
Di
rumah, Gina hanya tinggal berdua dengan ibunya. Dalam keadaan seperti itu Gina
tak pernah merasa sepi. Bagi Gina ibunya adalah segalanya. Separuh dari hidup
Gina ada pada diri ibunya. Apapun keadaan ibunya. Gina dan ibunya hidup di
kondisi yang sulit, mereka selalu bertahan dan berjuang untuk mempertahankan
hidup. Mereka yakin bahwa ada kalanya posisi manusia berada di titik terendah
yang membuat mereka berpikir hidup tak lagi berharga. Akan tetapi, akan tiba
masa di mana seseorang berada di titik puncak dan mereka bisa menikmati titik
tersebut karena teringat begitu susahnya usaha untuk menggapai puncak itu. Dari
keadaan keluarganya tersebut Gina belajar akan arti hidup dan perjuangan. Gina
pun menjadi seorang yang berani, kuat, dan tangguh.
Meskipun
Gina seorang gadis yang berani, kuat, dan tangguh tetapi Gina susah bergaul dan
sukar untuk akrab dengan orang baru di hidupnya. Itulah hal yang menyebabkan
Gina tidak memiliki sahabat bahkan seorang teman pun.Hari demi hari Gina lalui.
Waktu demi waktu berlalu begitu berat tanpa seorang teman pun. Gina merasa
hidupnya kurang sempurna.
Toktoktok....
Suara ketukan itu lagi-lagi membuyarkan lamunan
Gina.
"Kamu sedang apa, Nak?"
"Eh, oh Ibu. Ng... ng... nggak Bu." jawab
Gina yang terkaget dan mencoba menutupi sesuatu.
"Baiklah, makan dulu yuk, Nak. Ibu sudah
siapkan makan siang kesukaanmu."
Gina pun bergegas dari tempat tidurnya menuju ruang makan.
Di atas meja makan telah tersaji sepiring kacang panjang tumis dan sebakul
nasi. Tak ketinggalan menu favorit Gina, tempe goreng yang hanya dibumbui
dengan garam dan bawang putih. Sebuah menu yang sangat sederhana. Di balik
kesederhanaan menu tersebut terdapat rasa cinta, kasih sayang, dan juga
perjuangan untuk mendapatkannya. Disaat seperti inilah Gina merasakan begitu
berharganya seorang ibu dan sebuah kebersamaan.
"Makasih ya Bu, Ibu udah masakin semua ini buat
aku. Aku sayang sama Ibu." ucap Gina dengan penuh kelembutan sembari
memeluk ibunya.
"Iya nak, Ibu juga sayang sama kamu. Jadi anak
yang sabar dan kuat ya. Bukan hanya itu, kamu harus peduli dengan sesama,
mengasihi sesama, dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Satu lagi Nak,
jangan lupa salat. Berdoalah kepada Allah yang telah memberikan semua ini. Dia
memberikan apa yang terbaik. Jangan pernah sesali apa yang telah ada. Jalani
sepenuh hati meskipun tak sesuai dengan apa yang kau inginkan, Nak. Ingat!
Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah dari apa yang kita inginkan."
Pelukan Gina semakin erat. Tanpa sadar air mata
telah mengalir dari keduanya.
"Iya, Bu. Gina akan selalu mensyukuri apa yang
telah Allah berikan pada Gina."
"Ya udah-udah makan aja yuk, nanti keburu
dingin."
"Ayo Bu, aku juga udah laper. Hehehe."
Mereka
pun makan seadanya. Setelah makan Gina kembali lagi ke kamarnya. Gina mulai
mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Dia mulai menulis kisah hidupnya. Kisah
yang penuh warna. Warna kelabu menjadi dominannya. Kata demi kata mulai Gina
susun. Paragraf demi paragraf mulai ia rangkai. Hingga pada akhirnya selesai
sudah cerpen yang dibuatnya. Karena Gina sudah letih dengan kegiatan seharian
ini, Gina terlelap dengan pulasnya.
***
Bulan
demi bulan telah berganti. Tugasnya pun telah ia kumpulkan sebelum batas waktu.
Seperti biasa, Gina mulai hari-hari yang berganti dengan perasaan yang monoton.
Gina masih tetap tak memiliki teman.
***
Malam
ini adalah malam kelabu. Tanpa bintang dan juga sang raja malam. Sama seperti
perasaan Gina. Gina hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Dia ingat akan
perkataan ibunya. Kita harus menjalin hubungan baik dengan orang lain.
Sekalipun dia orang yang pintar, berani, kuat, dan tangguh. Gina terus merenung
dan merenung. Dia mengingat apa yang telah menjadi kebiasaannya selama ini.
"Apa yang selama ini aku lakukan? Ya, aku emang
pinter, aku emang kuat, aku pembereni, aku tangguh. Tapi apa gunanya semua itu?
Aku nggak punya teman. Seorang pun aku tak punya. Aku harus berubah. Aku harus
bisa jadi apa yang ibu bilang. Ibu bener, menjalin hubungan baik dengan orang
lain memang perlu. Apalagi aku nggak bisa ngelakuin semua sendiri. Aku butuh
orang lain. Bukan cuma ibu, sahabat pun aku perlu. Aku harus berubah! Ya, mulai
besok aku akan berubah. Aku akan mencoba jadi gadis yang supel. Mudah bergaul
dengan orang lain. Harus! Aku akan berusaha. Aku pasti bisa."
Gina
terus berbicara pada dirinya sendiri. Tanpa terasa jam di tembok kamarnya telah
menunjukkan waktu pukul 12.00 malam. Gina mencoba memejamkan matanya. Tak bisa.
Gina tak bisa. Tak seperti malam-malam sebelumnya. Dia tak bisa memejamkan mata
sedikit pun. Ia terus terbayang-bayang apa yang telah terucap. Gina mulai ragu
apakah teman-temannya mau menerimanya. Belum sempat terlelap Ibu Gina mengetuk
pintu.
"Nak, ayo bangun. Udah jam lima nih, nanti kamu
telat."
"Iya, Bu. Gina udah bangun kok."
Gina
yang semalaman belum tidur, kaget mendengar suara ibunya dan mengetahui bahwa
hari telah berganti. Gina bergegas untuk bangun. Gina tak sabar untuk sampai di
sekolah pagi ini.
***
Seperti
biasa, suasana kelas di pagi hari masih sepi dan Gina adalah orang pertama yang
masuk ke kelas tersebut. Satu demi satu siswa yang sekelas dengan Gina datang.
Orang yang Gina tunggu-tunggu akhirnya datang.
"Ti, aku mau minta maaf sama kamu. Aku sering
nyuekin kamu. Padahal kamu udah berusaha untuk deket sama aku. Kamu mau jadi
sahabat aku? Bukan cuma sahabat, aku mau kamu jadi sahabat terbaikku."
"Ka...kamu kenapa Gin? Kenapa kamu tiba-tiba
kaya gitu ke aku? Kamu nggak kenapa-kenapa kan?"
Karena tak biasanya Gina seperti itu, Titi kaget
mendengar ucapan Gina. Titi takut ada sesuatu yang terjadi dengan Gina.
"Aku nggak apa-apa kok. Aku sadar selama ini
aku salah. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku mengabaikan orang-orang
yang mencoba dekat denganku."
"Gina...."
"Iya Ti,
aku mau kamu jadi sahabatku."
"Pasti Gina, pasti. Aku udah maafin kamu dari
dulu. Jauh sebelum kamu minta maaf sama aku. Dari dulu aku berharap banget kamu
jadi sahabat terdekatku. Dan sekarang harapanku terwujud. Aku seneng banget
Gin..."
"Makasih Ti, aku beruntung banget ada kamu yang
mau jadi temen aku. Kamu yang dari dulu peduli sama aku."
Gina
memeluk Titi erat-erat. Tak terasa air mata haru menetes pipi mereka. Siswa
lain yang ada di kelas juga memandang keduanya penuh haru. Tak ketinggalan Gina
juga minta maaf dengan teman sekelasnya yang lain dan meminta mereka menjadi
temannya. Hal yang tak terduga muncul. Siswa sekelas Gina justru yang minta maaf
kepada Gina. Mereka mengaku mereka yang tak pernah memperhatikan Gina.
***
Setibanya
di rumah Gina langsung menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibu Gina tersenyum
mendengar cerita Gina.
"Nak, apa yang ibu bilang benar kan? Sekarang
kamu harus menjaga hubungan kamu dengan sahabat-sahabatmu. Jangan pernah kamu
menyakiti mereka. Jangan pernah kamu mengecewakan mereka. Sama seperti apa yang
kamu lakukan ke ibu. Kamu selalu menjaga hati ibu. Membuat ibu bahagia, membuat
ibu bangga."
"Iya, Bu. Gina janji akan selalu ingat apa ibu
bilang."
Hidup
Gina kini lebih sempurna. Hari-hari yang datang Gina lalui dengan warna baru.
Hari penuh tawa dan hari-hari yang membuat Gina lebih bahagia.
***

OK, dengan beberapa kekurangan dalam penulisan, misalnya pada penulisan dialog, cerpen ini menarik, terasa orisinal. Sayang Anda terlalu memberi tahu pembaca tentang si tokoh. Akan lebih baik, biarkan pembaca menafsirkan senidiri tentang tokoh. Contohnya, Gina adalah bla bla, dia berbeda dengan ...
BalasHapus