Minggu, 28 Februari 2016

Laporan PLS



LAPORAN PERJALANAN PEMBELAJARAN LUAR SEKOLAH
(Etie Rahayu Ningsih-X MIA 3)


          Hari Selasa, 16 Februari 2016 Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Magelang atau yang biasa disebut SMADA mengadakan Pembelajaran Luar Sekolah (PLS). Kegiatan PLS tersebut diadakan di PT. Sri Rejeki Isman (PT. SRITEX),  Museum Sangiran, dan Pasar Grosir Solo (PGS). PLS merupakan kegiatan rutin SMAN 2 Magelang dan merupakan program yang wajib diikuti oleh siswa kelas X baik jurusan IPA atau IPS.
          Program PLS tahun 2016 ini diikuti oleh siswa kelas X dari kelas  X MIA 1 hingga kelas X IIS 3. Sebanyak 6 bus digunakan untuk melaksanakan program tersebut. Setiap bus tersiri dari siswa kelas X MIA 1 hingga X IIS 3. Pembagian bus tersebut berdasarkan kelompok penyusunan laporan. Akan tetapi, denah tempat duduk diatur oleh panitia PLS. Setiap bus ada 43 siswa dan 3 guru pendamping. Guru pendamping tersebut bertugas mendampingi siswa dan memberi arahan kepada siswa yang berada di dalam bus tersebut. Selain guru pendamping, di setiap bus ada seorang pemandu yang berasal dari biro perjalanan yang telah diberi kepercayaan untuk mengantarkan siswa program PLS yang diadakan sekolah.
            Sekitar pukul 06.30 WIB kami mulai memasuki bus dan diabsen terlebih dahulu oleh guru pendamping. Karena masih ada beberapa siswa yang terlambat kami harus menunggu lebih lama lagi. Bus yang datang terlambat ditambah lagi dengan beberapa siswa yang datang terlambat membuat kegiatan PLS tidak berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Didahului dengan doa bersama, bus mulai melaju pada pukul 07.15WIB. Jauh dari jadwal yang telah ditentukan.
Logo PT. SRITEX

          PT. Sri Rejeki Isman atau yang lebih dikenal dengan PT. SRITEX menjadi tujuan pertama kami. Sepanjang perjalanan menuju PT. SRITEX para siswa asyik dengan kesibukan mereka masing-masing. Ada yang kerjaannya makan terus, tidur, karaoke dengan HP masing-masing, ngobrol dengan teman di sampingnya, dan juga nonton film yang disetelkan oleh kru dari bus kami. Waktu yang diperlukan untuk sampai di PT. SRITEX kurang lebih 3 jam. Waktu dibutuhkan lebih lama karena ada beberapa faktor. Yang pertama hambatan di jalan seperti macet dan lalu lintas yang padat. Yang kedua, faktor dari siswa itu sendiri, yaitu setiap ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pasti ada saja yang mau buang air kecil. Bukan hanya sekali dua kali  tetapi lebih.
Ruang penjahitan

          Sekitar pukul 10.25 WIB rombongan kami tiba di PT. SRITEX. Jauh dari rencana awal yaitu pukul 09.30 sampai di PT. SRITEX. Karena keterlambatan yang cukup lama rombongan SMAN 2 Magelang tidak bisa masuk ke aula untuk mendapat arahan dari pihak PT. SRITEX. Selain itu, rombongan SMAN 2 Magelang sudah didahului oleh tamu VIP (Very Important Person) dari Jakarta. Akhirnya, rombongan siswa SMAN 2 Magelang hanya bisa masuk ke ruang penjahitan pakaian dan showroom tanpa melihat proses produksi dari awal hingga akhir seperti yang direncanakan. Bukan berbelanja, para siswa malah berfotoria dan selfie. Waktu  yang diberikan juga sangat terbatas.
 
Sampel kain seragam tentara beberapa negara
          PT. SRITEX mulai dirintis oleh H.M. Lukminto tahun 1966. Usahanya dimulai dengan berjualan batik di pasar klewer dengan modal Rp. 100.00,00 yang diberikan oleh ayahnya. Hingga akhirnya PT. SRITEX memiliki kurang lebih 25.000 karyawan dan kawasan pabrik seluas 5 hektare. PT. SRITEX terletak di Jl. KH Samanhudi 88 Jetis Sukoharjo, Solo.  PT. SRITEX memproduksi seragam tentara 40 negara di dunia. Termasuk juga North Atlantic Treaty Organization (NATO), Amerika Serikat, dan Indonesia. Bukan hanya pakaian tentara namun juga seragam beberapa perusahaan besar di Indonesia seperti PT. Free Port dan juga Korpri.

          Setelah melakukan kegiatan PLS di PT. SRITEX perjalanan dilanjutkan ke Museum Sangiran. Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan menuju Museum Sangiran tidak terlalu lama. Museum yang beralamat di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen. 
       
Gerbang masuk Museum Sangiran
  
Sesampainya di Museum Purbakala Sangiran rombongan kami langsung masuk ke dalam museum dan didampingi oleh guide yang ada di Museum Sangiran. Guide menjelaskan satu demi satu temuan-temuan yang ada. Di Museum Purbakala Sangiran terdapat tiga ruang pamer (display room). Ruang pamer pertama "Kekayaan Sangiran/Wealth Of Sangiran". Ruang pamer kedua "Langkah-Langkah Kemanusiaan/Steps Of Humanity". Ruang pamer ketiga "Masa Keemasan Homo Erectus-500.000 tahun yang lalu/Golden Era Of Homo Erectus-500.00 Years Ago".
Display room 1

          Ruang pamer 1 adalah suatu ruang yang berisi koleksi-koleksi fosil manusia purba, sampai suatu gambaran tentang kehidupan manusia purba. Selain itu di Ruang pameran 1 ini terdapat gambar proses evolusi mahluk sel tunggal-manusia, evolusi manusia, fosil crocodillus sp, chelonia sp, hippopotammu sp, stegodon trigonochepalus, cervus hippelapus, bibospalaesondaicus, rhinocerus sondaicus, susbrachygnathus dobois, bola batu.
Display room 2

          Di ruang pameran yang ke-2 juga terdapat fosil-fosil purba, dan juga yang cukup menarik adalah perkembangan manusia dengan gambaran tengkorak-tengkorak manusia, antara lain  Australpithecus Africanus, Pithecantropus Modjokertoensis, Homo Erectus, Homo erectus/pithecantropus viii, Homo Soloensis, Homo Neaderthal Asia, Homo Neaderthal Eropa, Homo Sapiens , dan Homo Sapiens Sapien.
Display room 3
          Ruang Pamer 3, bertema tentang Homo Erectus dan berisi replika kehidupan spesies Homo erectus. Di sini kami dapat mempelajari kehidupan Homo Erectus pada jaman itu atau perbedaan Homo Erectus dan Homo Sapiens, tapi banyak siswa lebih tertarik dengan manusia terpendek pada saat itu,  yaitu Homo Floresiensis.
          Museum Purakala Sangiran memiliki beragam koleksi. Berikut ini adalah beberapa koleksi yang tersimpan di Museum Sangiran:
Replika Homo Eretus dan Homo Sapien

1. Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus (replika), Pithecanthropus mojokertensis (Pithecanthropus robustus) (replika), Homo soloensis (replika), Homo neanderthal Eropa (replika), Homo neanderthal Asia (replika), dan Homo sapiens.
2. Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinoceros sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).
3. Fosil binatang laut dan air tawar, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Moluska (kelas Pelecypoda dan Gastropoda), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera.
4. Batuan, antara lain rijang, kalsedon, batu meteor, dan diatom.
5. Artefak batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak
          Setelah selesai melihat-lihat ketiga display room tersebut para siswa diberi waktu untuk mengamati pemandangan di luar museum dan berfoto sebelum akhirnya kembali ke bus. Bagi siswa muslim diperkenankan untuk salat dzuhur sekaligus ashar dengan menjamak qasar. Karena luas mushola yang terbatas, salat dibagi menjadi beberapa kloter. Siswa yang telah selesai salat langsung ganti baju memakai kaos yang telah diberikan.
Solo Square

          Tujuan kami yang terakhir adalah Pasar Grosir Solo (PGS). Waktu yang dibutuhkan untuk menuju PGS juga tidak terlalu lama. Namun sayang, karena hari sudah sore PGS sudah tutup. Akhirnya pemandu bus mengarahkan kami untuk menuju ke Solo Square. Solo Square terletak di Jl. Brigjend. Slamet Riyadi 451 – 455 Solo. Tempat ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan besar dan lengkap di Solo. Solo square terdiri dari 5 lantai dengan tenant-tenant penyewa yang sangat terkenal. 
 
Tampak dalam Solo Square
          Di Solo Square kami diberi waktu selama 2 jam atau hingga pukul 19.00 WIB. Mayoritas siswa memilih untuk ke toko buku Gramedia untuk sekedar melihat-lihat buku terbaru atau membelinya. Tak sedikit siswa yang kecewa karena tidak jadi ke PGS dan menyesal tidak berbelanja di showroom PT. SRITEX dengan harga yang jauh lebih murah. Karena waktu telah menunjukkan pukul 19.00, para siswa dan juga guru pendamping bergegas masuk ke dalam bus masing-masing. Kami harus berjalan dahulu sekitar 5 menit karena lokasi parkir bus yang cukup jauh dan hari telah gelap.
      
Makan malam di Rumah Makan Taman Sari
   
Selanjutnya kami dan rombongan menuju ke Rumah Makan Taman Sari untuk makan malam. Rumah Makan Taman Sari berlokasi di Jl. Adi Sucipto No.168, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Bukan hanya rombongan SMAN 2 Magelang yang makan malam di sana, ada juga rombongan dari sekolah lain. Oleh karena itu, para siswa harus cepat-cepat makan agar bisa bergantian dan langsung sholat isya'.
          Setelah semua siswa selesai makan kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan pulang ke Kampus SMAN 2 Magelang tercinta. Untuk mengusir bosan dan ngantuk pemandu bus memberikan beberapa soal sebagai kuis. Setiap siswa yang dapat menjawab dengan tepat diberi hadiah, mulai dari kaos, asesoris, dan tas laptop. Ada juga yang menghibur temannya dengan menyanyi. Tak jarang juga siswa yang kelelahan tidur tanpa sedikitpun terganggu dengan keributan yang ada di bus. Karena saking asyiknya, tak terasa kami sudah sampai di gang depan kampus SMAN 2 Magelang. Kami tiba kembali di kampus SMAN 2 Magelang sekitar pukul 22.30. Jauh dari jadwal yang telah ditentukan. Di sana sudah banyak wali murid yang menunggu anaknya untuk dijemput. Karena hari sudah larut malam tak sedikit juga siswa laki-laki yang tidur di masjid SMAN 2 Magelang. Termasuk saya, saya tidak langsung pulang ke rumah. Karena rumah saya cukup jauh dari sekolah dan jalan menuju rumah saya rawan terjadi kecelakaan dan kejahatan, orang tua saya meminta saya untuk menginap di tempat kos teman saya dan pulang ke rumah keesokan harinya.

Sabtu, 27 Februari 2016

cerpen



Sempurna Lebih Berwarna
(Etie Rahayu Ningsih-X MIA 3)

          Sebuah perjalanan hidup seorang gadis kecil berparas cantik. Gadis itu bernama Gina. Gina adalah murid salah satu SMP di Kota Magelang. Gina memiliki wajah yang cantik dan juga manis. Rambut panjang dan poni membuatnya terlihat lebih feminin. Rambut panjangnya selalu ia kuncir tinggi. Kacamata juga tak pernah enggan menemani Gina pergi kemanapun. Hal itu membuat Gina terlihat sangat cantik apalagi dengan tahi lalat yang ada di dagunya. Meskipun Gina telah duduk di bangku kelas VIII SMP, dia berbeda dengan remaja seumurannya. Jika teman-temannya pergi untuk main ataupun jalan-jalan Gina hanya duduk di rumah bersama ibunya.
"Nak, inikan hari Minggu, kamu nggak mau pergi jalan-jalan kemana gitu?" tanya ibu Gina hingga membuyarkan lamunan Gina.
"Nggak Bu, Gina di rumah aja nemenin ibu. Gina juga males mau pergi-pergi."
          Tak lain dengan di sekolah. Jika waktu istirahat para penghuni kelasnya menghabiskannya dengan bercanda dan ngobrol, Gina hanya duduk terdiam dan terpaku pada buku-buku yang ada di depan matanya.
"Kamu lagi ngapain Gin?" tanya Titi yang datang menghampirinya.
"Nggak, ini cuma baca-baca buku." Jawab Gina tanpa menatap Titi sedikitpun.
"Oh, gitu ya." timpal Titi dengan kesal.
Karena tanggapan Gina yang kurang menyenangkan Titi pun meninggalkan Gina. Titi meninggalkan Gina dengan wajah sedikit ditekuk. Tak menghiraukan apa yang terjadi Gina terus melanjutkan belajarnya. Waktu telah berlalu. Mata Gina masih terpaku pada buku-buku di depannya. Hal itu membuat Gina tidak memiliki banyak teman. Bahkan teman-teman sekelasnya pun enggan untuk mendekati Gina. Gina adalah seorang gadis yang pemalu, sulit untuk dekat dengan orang baru di hidupnya, dan Gina suka untuk menyendiri.
          Istirahat telah selesai. Saat ini telah masuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kali ini materi yang dipelajari adalah membuat cerpen. Setiap siswa diberi tugas untuk membuat sebuah cerpen dengan tema "aku dan kehidupanku". Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk membuat cerpen, akhirnya tugas tersebut dibuat PR. Tugas tersebut harus dikumpulkan satu minggu dari hari itu.
***
          Waktu demi waktu terus berlalu hari demi hari telah berganti. Kebiasaan Gina masih tetap sama. Menyendiri dan terus menyendiri. Belajar dan terus belajar. Gina tak ingin mengecewakan ibunya. Ia ingin melihat ibunya bahagia. Gina ingin menunjukkan kepada ibunya kalau dia adalah anak yang pandai, anak yang berprestasi, dan menjadi kebanggan ibunya. Ibunya yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ibunya yang selalu menjaganya sejak kepergian ayahnya beberapa tahun lalu. Ibunya yang selalu berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakannya. Apapun Ibu Gina lakukan untuknya, termasuk menjadi buruh di sebuah pabrik dengan upah yang sangat minim. Meski begitu, Gina bersyukur ia dapat bersekolah hingga saat ini dengan beasiswa yang didapatkannya.
          Di rumah, Gina hanya tinggal berdua dengan ibunya. Dalam keadaan seperti itu Gina tak pernah merasa sepi. Bagi Gina ibunya adalah segalanya. Separuh dari hidup Gina ada pada diri ibunya. Apapun keadaan ibunya. Gina dan ibunya hidup di kondisi yang sulit, mereka selalu bertahan dan berjuang untuk mempertahankan hidup. Mereka yakin bahwa ada kalanya posisi manusia berada di titik terendah yang membuat mereka berpikir hidup tak lagi berharga. Akan tetapi, akan tiba masa di mana seseorang berada di titik puncak dan mereka bisa menikmati titik tersebut karena teringat begitu susahnya usaha untuk menggapai puncak itu. Dari keadaan keluarganya tersebut Gina belajar akan arti hidup dan perjuangan. Gina pun menjadi seorang yang berani, kuat, dan tangguh.
          Meskipun Gina seorang gadis yang berani, kuat, dan tangguh tetapi Gina susah bergaul dan sukar untuk akrab dengan orang baru di hidupnya. Itulah hal yang menyebabkan Gina tidak memiliki sahabat bahkan seorang teman pun.Hari demi hari Gina lalui. Waktu demi waktu berlalu begitu berat tanpa seorang teman pun. Gina merasa hidupnya kurang sempurna.
Toktoktok....
Suara ketukan itu lagi-lagi membuyarkan lamunan Gina.
"Kamu sedang apa, Nak?"
"Eh, oh Ibu. Ng... ng... nggak Bu." jawab Gina yang terkaget dan mencoba menutupi sesuatu.
"Baiklah, makan dulu yuk, Nak. Ibu sudah siapkan makan siang kesukaanmu."
Gina pun bergegas dari tempat tidurnya menuju ruang makan. Di atas meja makan telah tersaji sepiring kacang panjang tumis dan sebakul nasi. Tak ketinggalan menu favorit Gina, tempe goreng yang hanya dibumbui dengan garam dan bawang putih. Sebuah menu yang sangat sederhana. Di balik kesederhanaan menu tersebut terdapat rasa cinta, kasih sayang, dan juga perjuangan untuk mendapatkannya. Disaat seperti inilah Gina merasakan begitu berharganya seorang ibu dan sebuah kebersamaan.
"Makasih ya Bu, Ibu udah masakin semua ini buat aku. Aku sayang sama Ibu." ucap Gina dengan penuh kelembutan sembari memeluk ibunya.
"Iya nak, Ibu juga sayang sama kamu. Jadi anak yang sabar dan kuat ya. Bukan hanya itu, kamu harus peduli dengan sesama, mengasihi sesama, dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Satu lagi Nak, jangan lupa salat. Berdoalah kepada Allah yang telah memberikan semua ini. Dia memberikan apa yang terbaik. Jangan pernah sesali apa yang telah ada. Jalani sepenuh hati meskipun tak sesuai dengan apa yang kau inginkan, Nak. Ingat! Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah dari apa yang kita inginkan."
Pelukan Gina semakin erat. Tanpa sadar air mata telah mengalir dari keduanya.
"Iya, Bu. Gina akan selalu mensyukuri apa yang telah Allah berikan pada Gina."
"Ya udah-udah makan aja yuk, nanti keburu dingin."
"Ayo Bu, aku juga udah laper. Hehehe."
          Mereka pun makan seadanya. Setelah makan Gina kembali lagi ke kamarnya. Gina mulai mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Dia mulai menulis kisah hidupnya. Kisah yang penuh warna. Warna kelabu menjadi dominannya. Kata demi kata mulai Gina susun. Paragraf demi paragraf mulai ia rangkai. Hingga pada akhirnya selesai sudah cerpen yang dibuatnya. Karena Gina sudah letih dengan kegiatan seharian ini, Gina terlelap dengan pulasnya.
***
          Bulan demi bulan telah berganti. Tugasnya pun telah ia kumpulkan sebelum batas waktu. Seperti biasa, Gina mulai hari-hari yang berganti dengan perasaan yang monoton. Gina masih tetap tak memiliki teman.
***
          Malam ini adalah malam kelabu. Tanpa bintang dan juga sang raja malam. Sama seperti perasaan Gina. Gina hanya bisa duduk terpaku di sudut kamar. Dia ingat akan perkataan ibunya. Kita harus menjalin hubungan baik dengan orang lain. Sekalipun dia orang yang pintar, berani, kuat, dan tangguh. Gina terus merenung dan merenung. Dia mengingat apa yang telah menjadi kebiasaannya selama ini.
"Apa yang selama ini aku lakukan? Ya, aku emang pinter, aku emang kuat, aku pembereni, aku tangguh. Tapi apa gunanya semua itu? Aku nggak punya teman. Seorang pun aku tak punya. Aku harus berubah. Aku harus bisa jadi apa yang ibu bilang. Ibu bener, menjalin hubungan baik dengan orang lain memang perlu. Apalagi aku nggak bisa ngelakuin semua sendiri. Aku butuh orang lain. Bukan cuma ibu, sahabat pun aku perlu. Aku harus berubah! Ya, mulai besok aku akan berubah. Aku akan mencoba jadi gadis yang supel. Mudah bergaul dengan orang lain. Harus! Aku akan berusaha. Aku pasti bisa."
          Gina terus berbicara pada dirinya sendiri. Tanpa terasa jam di tembok kamarnya telah menunjukkan waktu pukul 12.00 malam. Gina mencoba memejamkan matanya. Tak bisa. Gina tak bisa. Tak seperti malam-malam sebelumnya. Dia tak bisa memejamkan mata sedikit pun. Ia terus terbayang-bayang apa yang telah terucap. Gina mulai ragu apakah teman-temannya mau menerimanya. Belum sempat terlelap Ibu Gina mengetuk pintu.
"Nak, ayo bangun. Udah jam lima nih, nanti kamu telat."
"Iya, Bu. Gina udah bangun kok."
          Gina yang semalaman belum tidur, kaget mendengar suara ibunya dan mengetahui bahwa hari telah berganti. Gina bergegas untuk bangun. Gina tak sabar untuk sampai di sekolah pagi ini.
***
          Seperti biasa, suasana kelas di pagi hari masih sepi dan Gina adalah orang pertama yang masuk ke kelas tersebut. Satu demi satu siswa yang sekelas dengan Gina datang. Orang yang Gina tunggu-tunggu akhirnya datang.
"Ti, aku mau minta maaf sama kamu. Aku sering nyuekin kamu. Padahal kamu udah berusaha untuk deket sama aku. Kamu mau jadi sahabat aku? Bukan cuma sahabat, aku mau kamu jadi sahabat terbaikku."
"Ka...kamu kenapa Gin? Kenapa kamu tiba-tiba kaya gitu ke aku? Kamu nggak kenapa-kenapa kan?"
Karena tak biasanya Gina seperti itu, Titi kaget mendengar ucapan Gina. Titi takut ada sesuatu yang terjadi dengan Gina.
"Aku nggak apa-apa kok. Aku sadar selama ini aku salah. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku mengabaikan orang-orang yang mencoba dekat denganku."
"Gina...."
"Iya Ti,  aku mau kamu jadi sahabatku."
"Pasti Gina, pasti. Aku udah maafin kamu dari dulu. Jauh sebelum kamu minta maaf sama aku. Dari dulu aku berharap banget kamu jadi sahabat terdekatku. Dan sekarang harapanku terwujud. Aku seneng banget Gin..."
"Makasih Ti, aku beruntung banget ada kamu yang mau jadi temen aku. Kamu yang dari dulu peduli sama aku."
          Gina memeluk Titi erat-erat. Tak terasa air mata haru menetes pipi mereka. Siswa lain yang ada di kelas juga memandang keduanya penuh haru. Tak ketinggalan Gina juga minta maaf dengan teman sekelasnya yang lain dan meminta mereka menjadi temannya. Hal yang tak terduga muncul. Siswa sekelas Gina justru yang minta maaf kepada Gina. Mereka mengaku mereka yang tak pernah memperhatikan Gina.
***
          Setibanya di rumah Gina langsung menceritakan semuanya kepada ibunya. Ibu Gina tersenyum mendengar cerita Gina.
"Nak, apa yang ibu bilang benar kan? Sekarang kamu harus menjaga hubungan kamu dengan sahabat-sahabatmu. Jangan pernah kamu menyakiti mereka. Jangan pernah kamu mengecewakan mereka. Sama seperti apa yang kamu lakukan ke ibu. Kamu selalu menjaga hati ibu. Membuat ibu bahagia, membuat ibu bangga."
"Iya, Bu. Gina janji akan selalu ingat apa ibu bilang."
          Hidup Gina kini lebih sempurna. Hari-hari yang datang Gina lalui dengan warna baru. Hari penuh tawa dan hari-hari yang membuat Gina lebih bahagia.
***

Sabtu, 21 November 2015

Teks Eksposisi



Kekurangan Sistem Belajar Kebut Semalam
(Etie Rahayu Ningsih-X MIA 3)

Sistem kebut semalam (SKS) adalah suatu cara belajar yang paling banyak disukai oleh siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), maupun mahasiswa. Cara belajar ini biasanya dilakukan oleh siswa yang kurang rajin dalam belajar. SKS biasa dilakukan pada malam hari dimana keesokan harinya adalah hari pelaksanaan tes. Sistem kebut semalam mempunyai banyak kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut antara lain sebagai berikut.
Pertama, sistem belajar kebut semalam akan menurunkan daya tahan tubuh siswa yang melakukan SKS tersebut. Hal itu karena sistem belajar kebut semalam akan membuat siswa tersebut sakit karena kurang tidur dan istirahat. Jika hal itu terjadi maka keesokan harinya siswa tersebut tidak dapat menjalani tes dengan baik bahkan tidak bisa mengikuti tes karena sakit.
Kedua, penyerapan materi yang dipelajari dalam sistem belajar kebut semalam kurang maksimal. Materi tidak dapat diterima secara maksimal karena  SKS akan membuat pelajar terburu-buru dalam belajar, padahal belajar memerlukan ketenangan agar dapat berkonsentrasi.
Ketiga, belajar juga harus disertai dengan berlatih, bukan hanya membaca. Jika materi yang dipelajari merupakan hafalan hal tersebut tidak masalah, tapi apabila yang dipelajari adalah hitung-hitungan dan rumus maka harus disertai dengan latihan. Latihan mngerjakan soal-soal mampu meningkatkan pemahaman tentang materi yang dipelajari.
Keempat, sesuatu yang dipelajari dengan sistem kebut semalam akan lebih cepat hilang karena terlalu banyak materi yang dipelajari tetapi siswa yang melakukan SKS tidak paham dengan apa yang mereka pelajari karena waktu yang singkat.
Kekurangan sistem belajar kebut semalam adalah menurunkan daya tahan tubuh, penyerapan materi tidak maksimal, kurang berlatih soal-soal, dan ilmu yang dipelajari akan cepat hilang. Sistem belajar kebut semalam adalah cara belajar yang kurang efektif meskipun sekali belajar bisa langsung mempelajari banyak hal.