Sabtu, 21 November 2015

Teks Eksposisi



Kekurangan Sistem Belajar Kebut Semalam
(Etie Rahayu Ningsih-X MIA 3)

Sistem kebut semalam (SKS) adalah suatu cara belajar yang paling banyak disukai oleh siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), maupun mahasiswa. Cara belajar ini biasanya dilakukan oleh siswa yang kurang rajin dalam belajar. SKS biasa dilakukan pada malam hari dimana keesokan harinya adalah hari pelaksanaan tes. Sistem kebut semalam mempunyai banyak kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut antara lain sebagai berikut.
Pertama, sistem belajar kebut semalam akan menurunkan daya tahan tubuh siswa yang melakukan SKS tersebut. Hal itu karena sistem belajar kebut semalam akan membuat siswa tersebut sakit karena kurang tidur dan istirahat. Jika hal itu terjadi maka keesokan harinya siswa tersebut tidak dapat menjalani tes dengan baik bahkan tidak bisa mengikuti tes karena sakit.
Kedua, penyerapan materi yang dipelajari dalam sistem belajar kebut semalam kurang maksimal. Materi tidak dapat diterima secara maksimal karena  SKS akan membuat pelajar terburu-buru dalam belajar, padahal belajar memerlukan ketenangan agar dapat berkonsentrasi.
Ketiga, belajar juga harus disertai dengan berlatih, bukan hanya membaca. Jika materi yang dipelajari merupakan hafalan hal tersebut tidak masalah, tapi apabila yang dipelajari adalah hitung-hitungan dan rumus maka harus disertai dengan latihan. Latihan mngerjakan soal-soal mampu meningkatkan pemahaman tentang materi yang dipelajari.
Keempat, sesuatu yang dipelajari dengan sistem kebut semalam akan lebih cepat hilang karena terlalu banyak materi yang dipelajari tetapi siswa yang melakukan SKS tidak paham dengan apa yang mereka pelajari karena waktu yang singkat.
Kekurangan sistem belajar kebut semalam adalah menurunkan daya tahan tubuh, penyerapan materi tidak maksimal, kurang berlatih soal-soal, dan ilmu yang dipelajari akan cepat hilang. Sistem belajar kebut semalam adalah cara belajar yang kurang efektif meskipun sekali belajar bisa langsung mempelajari banyak hal.

Jumat, 20 November 2015

Teks Laporan Hasil Observasi


ORRO CREW
(Etie Rahayu Ningsih-X MIA 3)

X MIA 3 merupakan salah satu kelas yang ada di Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Magelang. Di dalam kelas ini terdapat 29 siswa yang terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Siswa di kelas ini sering menyebut dirinya orro crew. Orro crew berasal dari kata orro yang tak sengaja terucap oleh seorang siswa dan kata tersebut menjadi kata favorit di kelas X MIA 3. Siswa kelas X MIA 3 sangat beragam. Keberagaman tersebut dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu usia, hobi, keanggotaan organisasi, keikutserataan ekstra kurikuler, cita-cita, dan tempat tinggal. Semua siswa di kelas X MIA 3 beragama Islam.
Usia siswa kelas X MIA 3 cenderung sama. Sebagian besar siswa di kelas ini berusia 15 tahun. Ada beberapa siswa yang berumur 14 tahun dan ada juga yang berumur 16 tahun.
Terdapat keberagam hobi yang dimiliki oleh siswa X MIA 3. Keberagaman tersebut antara lain membaca, memasak, nonton TV, sepak bola, berenang, dan bola voli. Dari 7 siswa laki-laki, mereka cenderung memiliki hobi dalam bidang olahraga. Sedangkan 22 siswa perempuan cenderung memiliki hobi dalam bidang seni. Hal itu dikarenakan seni dapat merubah suasana hati mereka dan sejenak melepas penat menghadapi permasalahan-permasalahan dalam belajar.
Di SMAN 2 Magelang terdapat beberapa organisasi, yaitu OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), MPK (Majelis Perwakilan Kelas), Bantara, dan PGR. Siswa X MIA 3 yang menjadi pengurus OSIS ada 3 anak, yaitu M. Ikhlasul Amal, Nurul Indazah, dan Purbo Listyo Pambudi. Dalam organisasi MPK ada 4 siswa X MIA 3 yang menjadi pengurus MPK, yaitu Anggita Arliandari, Etie Rahayu Ningsih, Firmanda Kusuma Devi, dan Shinta Maulida Susanti. Bantara adalah suatu organisasi kepramukaan yang ada di SMAN 2 Magelang. Siswa X MIA 3 yang tergabung dalam organisasi ini adalah M. Nur Akrom, Novi Lili Utami, Suwantirah, Vera Anggraeni Dwi Nugrahanti, dan Wisnu Hasan. PGR (Penerus Generasi Rabbani) adalah organisasi yang lebih dikenal dengan sebutan rohis. Siswa X MIA 3 yang masuk dalam organisasi ini adalah Fitri Lafifa, M. Nur Akrom, dan Novia Amarr Miswa Paramesthi.
SMAN 2 Magelang memiliki berbagai macam kegiatan pengembangan diri atau ekstra kurikuler. Ekstra kurikuler tersebut terbagi dalam beberapa bidang, yaitu seni, olahraga, dan ilmu pengetahuan. Yang termasuk dalam ekstra kurikuler bidang olahraga adalah voli, sepak bola, basket, dan renang. Terdapat 5 siswa X MIA 3 yang masuk dalam ekstra kurikuler olahraga, salah satunya adalah M. Wahyu Ega Saputra. Dalam bidang seni terdapat ekstra kurikuler membatik, teater, paduan suara, dan photograpy. Siswa X MIA 3 yang ikut dalam ekstra kurikuler seni ada 5 anak, antara lain Puput Indah Dwijayanti dan Etie Rahayu Ningsih yang ikut ekstra membatik. Dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan terdapat ekstra kurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja) dan English Debate Convertation. Ekstra kurikuler ini kurang diminati oleh siswa X MIA 3, dan hanya ada satu siswa yang ikut dalam ekstra kurikuler English Debate Convertation. Di SMAN 2 Magelang juga terdapat PMR (Palang Merah Remaja). Ekstra kurikuler ini adalah ekstra kurikuler yang paling diminati oleh siswa putri kelas X MIA 3. Ada 8 siswa yang ikut ekstra kurikuler ini diantaranya adalah Putri Rofaida A.M., Widya Agustina Fajriati, Farida Ariani, Dhea Safitri, dan Rachma Kusuma Dewi. Yang terakhir adalah ekstra kurikuler yang paling eksis di SMAN 2 Magelang yaitu BARA SMADA (Barisan Remaja SMAN 2). Ekstra kurikuler ini adalah suatu ekstra kurikuler dimana setiap anggotanya dilatih untuk memiliki jiwa yang tertib, disiplin, taat peraturan, kuat, dan bertanggung jawab. Fitri Lafifa, Indah Budi Syarifa, dan M. Nur Akrom adalah siswa X MIA 3 yang ikut dalam ekstra kurikuler ini.
Cita-cita yang dimiliki oleh siswa X MIA 3 sangat beragam. Ada yang bercita-cita sebagai dokter, guru, pengusaha, dan lain-lain. Mayoritas cita-cita siswa X MIA 3 adalah sebagai dokter, sama dengan cita-cita yang dimiliki oleh anak IPA pada umumnya.
Sebagian besar siswa X MIA 3 berdomisili di Kabupaten Magelang. Kebanyakan siswa X MIA 3 berasal dari Kecamatan Tegalrejo, Candimulyo, dan Grabag.

Jumat, 30 Oktober 2015

Teks Anekdot


ULANGAN MENDADAK
(Etie Rahayu Ningsih-X MIA 3)

Pada pagi itu suasana kelas masih tenang. Semua siswa asyik dengan apa yang mereka lakukan sendiri-sendiri. Dengan mengejutkan siswa, seorang guru masuk dengan tiba-tiba.
“Anak-anak sekarang ulangan!” kata guru tersebut dengan suara tegas.
“Ulangan apa, Bu?” Tanya seluruh isi kelas dengan kebingungan.
Suasana kelaspun tiba-tiba menjadi gaduh karena ada ulangan mendadak. Para siswa kebingungan karena selama pelajaran yang telah berlangsung mereka tidak paham dengan apa yang telah Bu Guru jelaskan. Hal tersebut dikarenakan Bu Guru tersebut mengajar dengan cra yang tidak sesuai dengan apa yang diinginka siswa, sehingga para siswa tidak suka dengan pelajaran guru tersebut.
“Ulangan apa yang sudah kita pelajari kemarin.” jawab Bu Guru dengan nada yang agak tinggi.
“Oh iya Bu, kemarin kita belajar banyak banget, sampai-samapai saya nggak bisa nangkapnya.” timpal seorang siswa bernama Burhan.
Burhan adalah seorang siswa yang sangat lugu, dia selalu bicara apapun yang ada di pikirannya meskipun hal itu terkadang membuat orang lain sakit hati. Dia juga seorang murid yang kurang cerdas. Dalam proses pembelajaran dia sering tidak memperhatikan apa yang sedang guru jelaskan.
“Ya sudah, pelajari lagi 5 menit.” pinta Bu Guru.
“Ulangannya bareng-bareng ya, Bu...” celoteh seorang siswa bernama Upin.
“Ya.” jawab Bu Guru tanpa terlalu memerhatikan pertanyaan Upin.
Lima menitpun berlalu. Bu Guru memerintahkan semua siswa untuk mengumpulkan buku catatan mereka ke depan meja guru sembari diberi selembar kertas berisi soal sekaligus lembar jawaban.
“Bu, nomor satu jawabannya apa?” tanya seorang siswa dengan muka polos.
“Ulangan kok tanya-tanya.” jawab Bu Guru dengan singkat.
“Tadi katanya bareng-bareng,Bu…” timpal Upin.
Bu Gurupun melongo mendengar jawaban upin dan terlihat kaget.
“Soalnya cuma 3, dikerjakan sendiri-sendiri!” Bu Guru menjawab dengan suara tinggi.
“Iya Bu, soalnya cuma tiga tapi jawabannya 6 lembar.” Kata Upin dengan nada melengking.
Tanpa disadari oleh semua siswa bel tanda selesai pelajaran berbunyi. Semua siswa tampak tak percaya dengan apa yang telah mereka dengar. Mereka mulai serius mengerjakan soal dan berhenti berceloteh dengan Bu Guru.
“Sekarang dikumpulkan!” pinta Bu Guru dengan nada suara meninggi.
“Nulis aja belum Bu…” kata seorang siswa yang duduk di belakang.
“Pokoknya dikumpulkan!” Bu Guru menjawab dengan wajah yang mulai memerah.
Para siswa silih berganti maju untuk menyerahkan lembar jawab mereka. Hingga sampai pada saat Upin tiba di depan Bu Guru.
“Ini nilainya pasti bagus Bu…” kata Upin sambil menyerahkan lembar jawabnya.
Sambil melihat lembar jawaban yang diserahkan Upin, Bu Guru berkata “Astaghfirullah…”
Bu Guru terkejut karena lembar jawab milik Upin masih kosong.