ULANGAN
MENDADAK
(Etie
Rahayu Ningsih-X MIA 3)
Pada
pagi itu suasana kelas masih tenang. Semua siswa asyik dengan apa yang mereka
lakukan sendiri-sendiri. Dengan mengejutkan siswa, seorang guru masuk dengan
tiba-tiba.
“Anak-anak
sekarang ulangan!” kata guru tersebut dengan suara tegas.
“Ulangan
apa, Bu?” Tanya seluruh isi kelas dengan kebingungan.
Suasana
kelaspun tiba-tiba menjadi gaduh karena ada ulangan mendadak. Para siswa
kebingungan karena selama pelajaran yang telah berlangsung mereka tidak paham
dengan apa yang telah Bu Guru jelaskan. Hal tersebut dikarenakan Bu Guru
tersebut mengajar dengan cra yang tidak sesuai dengan apa yang diinginka siswa,
sehingga para siswa tidak suka dengan pelajaran guru tersebut.
“Ulangan
apa yang sudah kita pelajari kemarin.” jawab Bu Guru dengan nada yang agak
tinggi.
“Oh
iya Bu, kemarin kita belajar banyak banget, sampai-samapai saya nggak bisa
nangkapnya.” timpal seorang siswa bernama Burhan.
Burhan
adalah seorang siswa yang sangat lugu, dia selalu bicara apapun yang ada di
pikirannya meskipun hal itu terkadang membuat orang lain sakit hati. Dia juga
seorang murid yang kurang cerdas. Dalam proses pembelajaran dia sering tidak
memperhatikan apa yang sedang guru jelaskan.
“Ya
sudah, pelajari lagi 5 menit.” pinta Bu Guru.
“Ulangannya
bareng-bareng ya, Bu...” celoteh seorang siswa bernama Upin.
“Ya.”
jawab Bu Guru tanpa terlalu memerhatikan pertanyaan Upin.
Lima
menitpun berlalu. Bu Guru memerintahkan semua siswa untuk mengumpulkan buku
catatan mereka ke depan meja guru sembari diberi selembar kertas berisi soal
sekaligus lembar jawaban.
“Bu,
nomor satu jawabannya apa?” tanya seorang siswa dengan muka polos.
“Ulangan
kok tanya-tanya.” jawab Bu Guru dengan singkat.
“Tadi
katanya bareng-bareng,Bu…” timpal Upin.
Bu
Gurupun melongo mendengar jawaban upin dan terlihat kaget.
“Soalnya
cuma 3, dikerjakan sendiri-sendiri!” Bu Guru menjawab dengan suara tinggi.
“Iya
Bu, soalnya cuma tiga tapi jawabannya 6 lembar.” Kata Upin dengan nada
melengking.
Tanpa
disadari oleh semua siswa bel tanda selesai pelajaran berbunyi. Semua siswa
tampak tak percaya dengan apa yang telah mereka dengar. Mereka mulai serius
mengerjakan soal dan berhenti berceloteh dengan Bu Guru.
“Sekarang
dikumpulkan!” pinta Bu Guru dengan nada suara meninggi.
“Nulis
aja belum Bu…” kata seorang siswa yang duduk di belakang.
“Pokoknya
dikumpulkan!” Bu Guru menjawab dengan wajah yang mulai memerah.
Para
siswa silih berganti maju untuk menyerahkan lembar jawab mereka. Hingga sampai
pada saat Upin tiba di depan Bu Guru.
“Ini
nilainya pasti bagus Bu…” kata Upin sambil menyerahkan lembar jawabnya.
Sambil
melihat lembar jawaban yang diserahkan Upin, Bu Guru berkata “Astaghfirullah…”
Bu
Guru terkejut karena lembar jawab milik Upin masih kosong.