Jumat, 30 Oktober 2015

Teks Anekdot


ULANGAN MENDADAK
(Etie Rahayu Ningsih-X MIA 3)

Pada pagi itu suasana kelas masih tenang. Semua siswa asyik dengan apa yang mereka lakukan sendiri-sendiri. Dengan mengejutkan siswa, seorang guru masuk dengan tiba-tiba.
“Anak-anak sekarang ulangan!” kata guru tersebut dengan suara tegas.
“Ulangan apa, Bu?” Tanya seluruh isi kelas dengan kebingungan.
Suasana kelaspun tiba-tiba menjadi gaduh karena ada ulangan mendadak. Para siswa kebingungan karena selama pelajaran yang telah berlangsung mereka tidak paham dengan apa yang telah Bu Guru jelaskan. Hal tersebut dikarenakan Bu Guru tersebut mengajar dengan cra yang tidak sesuai dengan apa yang diinginka siswa, sehingga para siswa tidak suka dengan pelajaran guru tersebut.
“Ulangan apa yang sudah kita pelajari kemarin.” jawab Bu Guru dengan nada yang agak tinggi.
“Oh iya Bu, kemarin kita belajar banyak banget, sampai-samapai saya nggak bisa nangkapnya.” timpal seorang siswa bernama Burhan.
Burhan adalah seorang siswa yang sangat lugu, dia selalu bicara apapun yang ada di pikirannya meskipun hal itu terkadang membuat orang lain sakit hati. Dia juga seorang murid yang kurang cerdas. Dalam proses pembelajaran dia sering tidak memperhatikan apa yang sedang guru jelaskan.
“Ya sudah, pelajari lagi 5 menit.” pinta Bu Guru.
“Ulangannya bareng-bareng ya, Bu...” celoteh seorang siswa bernama Upin.
“Ya.” jawab Bu Guru tanpa terlalu memerhatikan pertanyaan Upin.
Lima menitpun berlalu. Bu Guru memerintahkan semua siswa untuk mengumpulkan buku catatan mereka ke depan meja guru sembari diberi selembar kertas berisi soal sekaligus lembar jawaban.
“Bu, nomor satu jawabannya apa?” tanya seorang siswa dengan muka polos.
“Ulangan kok tanya-tanya.” jawab Bu Guru dengan singkat.
“Tadi katanya bareng-bareng,Bu…” timpal Upin.
Bu Gurupun melongo mendengar jawaban upin dan terlihat kaget.
“Soalnya cuma 3, dikerjakan sendiri-sendiri!” Bu Guru menjawab dengan suara tinggi.
“Iya Bu, soalnya cuma tiga tapi jawabannya 6 lembar.” Kata Upin dengan nada melengking.
Tanpa disadari oleh semua siswa bel tanda selesai pelajaran berbunyi. Semua siswa tampak tak percaya dengan apa yang telah mereka dengar. Mereka mulai serius mengerjakan soal dan berhenti berceloteh dengan Bu Guru.
“Sekarang dikumpulkan!” pinta Bu Guru dengan nada suara meninggi.
“Nulis aja belum Bu…” kata seorang siswa yang duduk di belakang.
“Pokoknya dikumpulkan!” Bu Guru menjawab dengan wajah yang mulai memerah.
Para siswa silih berganti maju untuk menyerahkan lembar jawab mereka. Hingga sampai pada saat Upin tiba di depan Bu Guru.
“Ini nilainya pasti bagus Bu…” kata Upin sambil menyerahkan lembar jawabnya.
Sambil melihat lembar jawaban yang diserahkan Upin, Bu Guru berkata “Astaghfirullah…”
Bu Guru terkejut karena lembar jawab milik Upin masih kosong.

2 komentar:

  1. Teks yang Anda buat ini mirip-mirip dengan milik Agustina Widya F. Secara umum cerita ini baik. Beberapa kesalahan masih ditemui terutama dalam penulisan dialog. Contoh "Iya Bu, soalnya cuma tiga tapi jawabannya 6 lembar." Kata Upin ... . yang benar adalah --> "Iya Bu, soalnya cuma tiga, tapi jawabnya 6 lembar, " kata Upin ... .Jadi, setelah kata "lembar" tidak titik, tetapi koma. Kata juga ditulis dengan huruf awal kecil. Pilihan kata dikarenakan tidak tepat, yang benar karena. Penulisan konjungsi sehingga (termasuk karena) yang di tengah tidak perlu didahului koma. Terima kasih.

    BalasHapus